Laman

Sabtu, 11 Juni 2011

Cinta dan Ikhlas

Sering kita mengatakannya
Sering pula kita merasakannya
Anugerah dari Sang Ilahi
Sebagai alat pembelajaran
Menuju cinta sejati
Pernahkah  bertanya
Berapa besar cinta kita pada Sang Ilahi
Sulit untuk menilainya
Karena cinta adalah subyektivitas
Antara makhluk dan Al Khaliq
Orang berilmu ada yang mengatakan tandanya
Berapa besar kenal kita kepada Sang Ilahi
Sebesar itu pula cinta kita
Sebesar itu pula keikhlasan kita

Ada Keladi Ada Talas

Ada keladi ada talas
Ada budi ada balas
Pribahasa  dalam budi pekerti
Hubungan manusia dengan manusia
Kadang membuat kita gundah
Bagaimana untuk membalasnya
Bagaiman mengharapkan balasan
Namun kita hampir melupakan
Kadang kita bisa membalasnya
Kadang kita tidak bisa membalasnya
Yang mengharapkan balasan
Skor kekalahan  semakin besar
Kerugian menanam budi
Kerugian mengharap balas
Demikian dimata Allah
 ·  · Bagikan · Hapus
    • Hazita Amir thanks for sharing it,Pak Nur..InsyaAllah!bukan pembalasan yg saya harapkan..ikhlas!
      Kemarin jam 12:26 ·  ·  1 orang
    • Syafuan Nur Semuga kita bisa amalkan, amin
      Kemarin jam 12:32 ·  ·  1 orang
    • Azimah Hussin pak nur..betulkan saya jika tersalah; Buatlah apa sahaja kebaikan dgn hati dijuruskan HANYA pada satu HARAP iaitu Allah menerimanya dengan rahmat. Jika berbuat dengan harapan selainNYA...para hamba bukan sahaja makin terjerumus kepada kerugian tetapi itu pembuka kepada laknatNYA. Ayuh waspadakan hati agar berbuat hanya dgn satu harap "Illahi anta maksudi ( ya Allah hanya pada MU maksudku)...
      23 jam yang lalu ·  ·  1 orang
    • Syafuan Nur Hehehehe.... bagus arahkan hati dan pikiran hanya untuk-Nya
      23 jam yang lalu · 
    • Ina Adziz ya saya ingat baru berbincang dgn hazita tentang topik ini minggu lepas, tentang manusia yg biasa mulutnya ternyata selalunya tidak mahu balasan tapi hatinya kadang2 terasa kalau asyik kita saja yg memberi.... yg menerima seperti tidak peduli..kalau ikhlas hanya kerana Allah s.w.t tentu lebih tenang....InsyaAllah..
      20 jam yang lalu ·  ·  1 orang
    • Syafuan Nur Sulit agar org lain untuk ngerti kt, tp krn kt sdh ngerti org mk kt yg selalu dpt kemenangan, alhamdulilah, jurus bermutu banyak org yg tdk tahu, kt yg tahu sllu jd juara
      19 jam yang lalu ·  ·  1 orang
    • Isna Latifah tapi ada jua org, sebenarnya kada tahu, tp pura" tahu,, terus mengerti,,,tp
      pura pura kd mengerti,,,,
      ( hehehe...,kd nyambung,,,,,)
      3 jam yang lalu · 
    • Syafuan Nur heheheee, mending pura2 tahu yg penting damai hee.... atau pura2 tdk ngerti yg penting ngerti heee,

Panorama Diri

Rasa yang ada di hati, tidak semua harus ditumpahkan melalui kata-kata
Rasa yang ada di hati, tidak semua harus di tumpahkan melalui tulisan
Rasa yang ada dalam hati, tidak semuanya harus didiamkan
Rasa yang ada dalam hati, tidak semuanya pula harus ditumpahkan dalam perbuatan
Kadang-kadang perlu dengan kata-kata
Kadang-kadang perlu dengan tulisan
Kadang-kadang perlu dengan tindakan
Kadang-kadang perlu dengan diam
Semuanya adalah untuk mengatur strategi peperangan dalam diri
Antara Keluarga Pandawa dengan keluarga Kurawa
Antara Kebaikan dengan keburukan 
Antara Malaikat dan Syaithan
Siapakah yang lebih unggul
kelompok putih atau hitam
Namun Rasulullah pernah memberi peringatan
Diantara semua jalan keluar
Diam itu yang bernilai emas
Karena tidak merusak diri
Karena tidak merusak orang lain
Karena tidak merusak alam semesta
 ·  · Bagikan · Hapus

Kamis, 09 Juni 2011

Berjiwa Besar

Baru saja kita menyaksikan pertandingan sepakbola Piala Champion Tahun 2011 antara kesebelasan Barcelona berhadapan dengan kesebelasan Manchester United di Stadion Wembley London dengan skor akhir 3-1 untuk Barcelona. Sebuah permainan yang indah, attraktif, enak untuk ditonton, mengasyikkan,  terbuka dan spirit yang tinggi. Apalagi bagi penonton yang mendukung tim Barca, pujian mengalir luar biasa, baik secara individu maupun secara tim.  Kita juga tidak bisa memungkiri terhadap tim Barcelona, baik secara individu maupun team work, seakan-akan bola dan badan itu sudah menyatu sehingga kehendak otak dapat dilaksanakan oleh badan, selamat pada tim Barcelona yang telah memenangi Piala Eropa tahun 2011 ini.

Bagi kita yang berada diluar dari lingkaran permainan atau emosi mereka mudah saja untuk mengucapkan selamat atas keberhasilan mereka. Tapi bagi mereka yang terlibat secara langsung apalagi pemainnya,  untuk menyatakan secara langsung ucapan selamat diperlukan ketabahan hati dan keluasan dada atau kelapangan . 

Orang yang mampu  memberikan ucapan selamat pada lawan atas kemenangannya adalah orang yangberjiwa Besar. Tidak banyak orang bisa melakukannya,  lihat saja setelah final Piala Champion tahun 2009 di Kota Roma untuk kemenangan Barcelona, Ronaldo  merasakan sekali.  Yang dia lakukan hanya menangis di lapangan  untuk menghapuskan kekecewaannya, sambil dibujuk oleh teman-temannya.
Tahun 2011 ini kembali terulang untuk kubu Manchester United,  bagaimana kecewanya wajah Wayne Roney, Ryan Gigs, sambil berjalan dengan langkah gontai, memandang gembiranya  kubu Barcelona apalagi sambil mengangkat Piala disambut oleh tepuk tangan ribuan penonton, maka semakin kecewalah hati. Namun yang saya baca kemudian Wayne Roney  juga mengucapkan selamat atas keberhasilan Barcelona, cobalah anda rasakan seandainya menjadi Wayne Roney atau klub MU,  mampukah berjiwa besar pada saat itu.

Ternyata masalah berbesar hati atau jiwa ini tidak hanya kita temui pada bidang olahraga saja, tapi juga pada semua aspek kehidupan, hampir semua orang juga pernah merasakannya juga termasuk anda. Bagaiman rasanya kecewa, bagaimana rasanya mengakui kekalahan, bagaimana rasanya tersingkir dalam persaingan hanya kitalah yang tahu.

Kita bahas sedikit dulu tentang kecewa, disebabkan oleh adanya sesuatu dimana kita tidak bisa menerima kondisi itu atau belum tercapai  keinginan sehingga mendatangkan kekecewaan.  Pelampiasan dari kekecewaan ini bermacam-macam, ada yang marah, ada yang menangis, ada yang dendam, ada yang benci, ada yang menjauhi, ada yang melawan, ada yang minta bantuan. 
Kekecewaan dalam bentuk apa pun juga, sudah pasti ditimbulkan  karena merasa dirinya dirugikan, lahir maupun batin. Hal ini adalah lumrah bagi manusia karena manusia mempunyai ego/aku. Si aku,  seringkali juga meluas sifatnya menjadi si kami, keluargaku, golonganku, bangsaku, partaiku, sahabatku. Nampak sekali pada kehidupan kita sehari-hari saat ini baik bidang sosial, agama, ekonoi, politik dan sebagainya  yang merupakan cermin  kekecewaan yang melahirkan perbedaaan pandangan, ketidakcocokan, dan tindakan yang brutal berupa  kerusuhan. Semuanya itu disebabkan oleh si ego yang selalu ingin senang, oleh karena itu kalau dia tidak dibikin senang, dan bahagia  kecewalah dia.

Karena itu dissinilah perlunya  Kebesaran Jiwa  agar tidak merusak diri sendiri dan orang lain, dan disini pula letak perjuangan dari seorang manusia untuk tidak memenangkan agonya atau nafsunya. Kita tahu nafsu itu perlu kita waspadai setiap saat agar tidak berbelok merusak diri, merusak orang lain, dan merusak alam semesta.

Terima kasih

Rabu, 08 Juni 2011

Yang Nyaris Terlupakan

Oleh Yusdeka Putra





Aku benar-benar nyaris lupa dengan logika sederhana al qur'an. bahwa:
Bagaimana aku akan bisa menjadi Abdullah (hamba Allah) kalau aku belum pernah menyembah dan mengabdi kepada Allah dengan tepat (IBADAH).

Bagaimana aku akan bisa menyembah dan mengabdi kepada Allah kalau aku belum pernah sekalipun menghadap Allah dengan tepat (TAWAJJUH).

Bagaimana aku akan bisa menghadap kepada Allah kalau aku tidak pernah sekalipun mengenali Allah dengan tepat (MA"RIFAT).

Bagaimana aku akan bisa mengenal Allah kalau aku belum pernah sekalipun berjumpa dan bertemu Allah dengan tepat LIQA).

Bagaimana aku akan bisa berjumpa dan bertemu Allah kalau aku belum pernah sekalipun datang, berjalan dan mendekati Allah dengan tepat (TAQARRUB).

Bagaimana saya akan bisa taqarrub kepada Allah kalau aku tidak pernah sekalipun ingat dan sadar penuh kepada Allah (DZIKRULLAH).

Bagaimana aku akan bisa ingat kepada Allah kalau aku tidak pernah TAHU dengan Allah...

Dan ternyata cara Allah memberi TAHU tentang DIRI-NYA kepada seluruh umat manusia adalah melalui ayat-ayat Al Qur'an. Sedangkan selajutnya adalah PERJALANAN masing-masing manusia untuk mencapai apa-apa yang diinginkan oleh Allah sebagai sebab musabab dari penciptaan diri kita dimuka bumi ini. Perjalanan yang bukan sembarang perjalanan. Tapi Perjalanan yang betul, Perjalanan yang TUNTAS.

Kalau tidak tuntas,
Maka adakalanya kita berhenti hanya di ILMU.
Atau kita sibuk dan berhenti di Dzikrullah.
Atau kita berhenti di Taqarrub.
Atau kita bengong dan berhenti di LIQA.
Atau kita berhenti bengong di Tawajjuh.
Atau boleh jadi kita sudah sampai di Ibadah, tapi sayangnya belum pernah sampai menjadi Abdullah.

Padahal menjadi Abdullah adalah sebab utama kenapa Allah menciptakan kita dimuka bumi ini.

Karena hanya dan hanya Abdullah lah yang bisa menjadi Abdur Razaq dengan tepat.
Hanya Abdullah lah yang bisa dengan tepat menyandang nama Abdul Khalik, Abdul Hakim, Abdul Malik..., dan seterusnya.

Saat Muhammad Rasulullah SAW berhasil menjadi Abdullah dengan tepat, maka Beliaupun menghasilkan Al Hadist, As Sunnah.

Sedangkan kita selama ini sudah menjadi apa, berada dimana, dan menghasilkan Apa???...


Salam
Deka

Minggu, 05 Juni 2011

Kesan Tanpa Hilang

Sering kita mendengar dalam pembicaraan,  dalam obrolan  sehari-hari kalimat "Hilang Tanpa  Kesan", artinya ketidakhadiran,  kepergian  seseorang yang hilang begitu saja  "tanpa  berita  dan tanpa kesan".   Apa yang menyebabkan istilah Hilang Tanpa Kesan itu sering dibicarakan, padahal setiap ada komunikasi atau berhubungan dengan pihak lain tidak mungkin hilang atau "Kesan Tanpa Hilang"   bukan "Hilang Tanpa Kesan".
Apabila kita memaknai kalimat "Hilang Tanpa Kesan"  dan  "Kesan Tanpa  Hilang", maka "Hilang Tanpa Kesan ", adalah perginya seseorang tanpa kesan yang baik atau tanpa berita, menghilang begitu saja. Sedangkan "Kesan Tanpa Hilang", artinya adalah, dalam berkomunikasi dengan seseorang, positif atau negatif yang  terjadi,  kesannya tidak akan pernah hilang atau selalu ada.  Cuma kalimat "Hilang Tanpa Kesan", menghendaki  agar dalam pergaulan, dalam berkomunikasi, diusahakan agar terjadi kesan yang positif.  

Sekarang kita melihat, kenapa kalimat "Hilang Tanpa Kesan", terkatakan oleh seseorang baik melalui tulisan maupun lisan? , mari kita ikuti uraiannya berikut ini.  
Setelah  ditelusuri lebih jauh "Hilang Tanpa Kesan",  itu terlontar disebabkan oleh adanya sesuatu dimana kita tidak bisa menerima kondisi itu atau belum tercapai  keinginan sehingga mendatangkan kekecewaan.  Pelampiasan dari kekecewaan ini bermacam-macam, ada yang marah, ada yang menangis, ada yang dendam, ada yang benci, ada yang menjauhi, ada yang melawan, ada yang minta bantuan. 
Kekecewaan dalam bentuk apa pun juga, sudah pasti ditimbulkan  karena merasa dirinya dirugikan, lahir maupun batin. Hal ini adalah lumrah bagi manusia karena manusia mempunyai ego/aku. Si aku,  seringkali juga meluas sifatnya menjadi si kami, keluargaku, golonganku, bangsaku, partaiku, sahabatku. Nampak sekali pada kehidupan kita sehari-hari saat ini baik bidang sosial, agama, ekonoi, politik dan sebagainya  yang merupakan cermin  kekecewaan yang melahirkan perbedaaan pandangan, ketidakcocokan, dan tindakan yang brutal adalah  kerusuhan. Semuanya itu disebabkan oleh si ego yang selalu ingin senang, oleh karena itu kalau dia tidak dibikin senang, dan bahagia  kecewalah dia. 

"Hilang Tanpa Kesan", adalah sebuah kalimat yang sering diucapkan dengan santai, dengan basa-basi, dengan canda, tapi tanpa kita sadari, kita sudah masuk pada keegoan, dimana ego inilah yang sering membawa kita pada titik terendah dari komunikasi.  Lebih jauh lagi bisa melupakan kita pada kebaikan seseorang, sehingga yang ada hanya keburukannya saja. Masih beruntung apabila kalimat tersebut terucapkan dengan sadar, dengan tenang, kemudian dilanjutkan dengan kalimat kenapa tidak baik sampai akhir, tapi itu hanya kehendak saya, kehendak Allah yang berlaku.

Sedangkan "Kesan Tanpa Hilang", adalah adanya keinginan agar dalam berkumunikasi, dalam bergaul, baik atau buruk, kesannya tidak dihilangkan, tapi dipilih dan dipilah sehingga selalu bermanfaat dalam pergaulan. Kita kebelakangkan ego, keinginan kita,  walaupun baik dan benar, biarlah berjalan apa adanya, biarlah seperti air yang mengalir, sehingga kehendak Allah yang diutamakan.

Demikian sebuah pemikiran dari saya, mudahan-mudahan menjadi "Kesan Tanpa Hilang",  bukan  "Hilang Tanpa Kesan".
Terima kasih

Selasa, 31 Mei 2011

Hanya Yang Kosong, Dapat Menerima Tanpa Meluap

Sebuah ungkapan bahasa yang kalau kita renungkan mempunyai penafsiran yang bermacam-macam tapi dalam satu tujuan,  tujuannya hanya satu yaitu agar kita berakhlak karimah.  Penafsiran yang bermacam-macam itu bisa kita hubungkan dengan akhlak kita pada alam semesta, akhlak kita pada sesama  manusia, atau akhlak kita pada diri sendiri dihadapan Allah SWT.

Mari kita kaitkan dengan akhlak kita pada alam semesta,  sebelum menguraikannya saya ingin mengutip dulu bait-bait sebuah  lagu dari Bang H. Rhoma Irama yaitu :

Tiap mala petaka
Didalam dunia
Semua itu karena
Olah manusia
Siapa yang mendatangkan
Banjir yang melanda
Siapa yang mendatangkan
Topan yang melanda
Tanyakan dirimu

Dari bait lagu tersebut, kalau kita hubungkan dengan kondisi alam bangsa Indonesia saat ini atau permukaan bumi, maka kita bisa menerima kebenaran dari bait lagu tersebut. Yang jadi pertanyaan adalah dimana letak kesalahan kita terhadap alam  ini.  Sambil bercanda saya pernah menulis pada status saya di fb dengan kalimat tersebut diatas kemudian saya tambahi pada komentarnya.  “Sungai-sungai di Indonesia sekarang ini sering mengalami kebanjiran atau meluap karena turunnya hujan. Meluapnya air sungai tersebut disebabkan sungai tersebut mengalami pendangkalan sehingga tidak mampu lagi menampung air hujan. Disamping terjadi luapan atau kebanjiran,  air luapan tersebut juga keruh dan tidak sehat”.  Sampai pada sungai yang mengalami pendangkalan ini saja kita sudah bisa menjawab, kenapa banjir, meminjam bait lagu terakhir Bang H. Rhoma Irama, “tanyakan dirimu”. 

Kita lanjutkan akhlak kita pada manusia lain,  sekarang ramai sekali dipertontonkan kepada khalayak ramai melalui televisi atau media-media yang lain tentang demonstrasi, kerusuhan, tawuran, perkelahian dan lain-lain  hampir di seluruh Indonesia.  Sekarang kita tanyakan apa penyebabnya, maka jawabnya adalah  telah terjadi pendangkalan  rohani masyarakat Indonesia. karena mengalami  pendangkalan, masyarakat kemudian meluapkannya dengan turun kejalan atau merusak sarana-sarana yang dimiliki oleh yang mereka anggap bersalah,  atau dianggap sebagai musuhnya.

Sekarang kita evaluasi akhlak diri kita terhadap diri kita sendiri,  apakah mengalami pendangkalan juga atau tidak, untuk menjawabnya kita kembalikan pada bait lagu terakhir “tanyakan dirimu”.   Karena diri sendirilah yang paling paham tentang dirinya, atau mengetahui dirinya. 
Sebagai ukuran atau parameternya,  kita kembalikan saja pada judul diatas yaitu “Hanya yang kosong, dapat menerima tanpa meluap”. Kalimat ini mengandung pengertian, dalam situasi yang seperti apapun hati kita,  apakah senang, apakah susah, apakah sedih, apakah gembira dan lain-lain,  kita menerimanya tanpa luapan, maka dapat dikatakan hati kita dalam keadaan kosong, dan tentu saja isinya penuh dengan Allah.  Sedangkan kebalikannya adalah, apabila  gembira, sedih, senang, susah kita lakukan dengan luapan maka kelihatanlah hati kita sedang mengalamipendangkalan  diisi oleh hal-hal lain selain Allah.

Sekali lagi mari kita evaluasi diri kita,  jika terjadi ketidaknyamanan, janganlah gampang menyalahkan orang lain, tapi lebih dulu salahkanlah diri sendiri.  Karena cara ini adalah jalan terbaik mengatasi  masalah.

Demikian, semoga kita selalu mendapatkan hidayah, dan selalu berada dalam hidayah,  terima kasih, selamat  merenungkan.