Laman

Minggu, 10 April 2011

Spritualis Antagonis

Kenapa dengan sebutan spritualis antagonis, karena saya teringat dengan nyanyian Ahmad Albar, dengan judul “Panggung Sandiwara”, diantara baitnya berbunyi “Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah…”. Kelompok spritualis inilah yang jadi pemeran antagonisnya dalam panggung sandiwara. Betulkah spritualis itu antagonis ?
Mari kita jawab dan telaah bersama  dengan kepala dingin dan hati yang tenang, karena semuanya akan mendatang inspirasi yang bagus . Apalagi kalau menulis, perlu pemikiran yang tenang, karena ketenangan adalah awal  dan didalam kecerdasan. Juga apabila dalam ketenangan  maka pemikiran yang disampaikan juga menjadi lebih obyektif. Tapi walau bagaimanapun juga menulis sesuatu itu kita tidak pernah obyektif seratus persen,  karena di dalam obyektivitas masih ada subyektivitas, begitu juga sebaliknya , di dalam subyetivitas masih ada obyektivitas, karena masih ada keakuannya, silahkan anda menilainya.
Saya ingin memaparkan dulu dari cara mendapatkan ilmu spiritual itu,  dilihat latar belakang belajar, dari siapa dan bagaimana cara dia mendapatkan ilmu tersebut. Karena bagaimanapun juga ilmu, watak, dan cara pandang, wawasan, serta keinginan  dari seorang guru akan sangat berpengaruh pada muridnya.
Dalam hal mendapatkan ilmu spritual ini biasanya ada 3    :
1)     Belajarnya dari tempat-tempat yang umum atau kepada guru-guru yang masyhur, terkenal,     Kalau didengar,
dibaca, tidak mengandung ajaran-ajaran yang menyimpang, berbeda,  sehingga sebagian besar orang bisa menerimanya. Dalam pembelajaran islam biasanya yang dijadikan tempatnya adalah masjid, mushalla, rumah-rumah ibadah, atau tempat-tempat khusus.  Jemaah yang hadir juga tidak terbatas pada kelompok, golongan, tingkatan, dan lain sebagainya,  siapa saja yang ingin belajar  silahkan datang. Mereka yang  belajar atau dididik dari hasil pengajian ini biasanya  dimasyarakat juga punya sikap yang  umum, netral dan juga bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat umum.  Metode pembelajaranpun  hanya satu arah, guru lebih dominan dalam penyampaian, bahkan si murid hanya sebagai pendengar yang baik, ada pertanyaan hanya sedikit, bahkan bisa tidak ada sama sekali. Akibat hanya mendengarkan, pasif,  maka sebagian besar dari muridnya tidak bisa memahaminya secara lebih mendalam dan khusus. Sedangkan ilmu yang khusus diberikan oleh gurunya  memerlukan waktu yang khusus, murid yang khusus yang bisa dipercaya oleh gurunya,  dapat merahasiakan ilmu dan dapat memegang rahasia itu.

2)     Belajar dari guru-guru yang tersembunyi, tidak terkenal, dan tidak masyhur. Bagi kelompok atau individu yang belajar pada tingkatan yang kedua ini produknya sudah mulai berbeda dengan tingkatan pertama.  Kenapa berbeda, karena ilmu, pandangan, cara, wawasan dalam pembelajaran  juga berbeda dengan tingkatan  yang pertama. Dalam  cara belajar saja sangat  nampak perbedaannya.  Kalau pembelajaran  tingkat pertama  biasanya yang lebih dominan adalah para guru/pengajarnya. Bisa dikatakan waktu sepenuhnya diisi oleh guru selama pembelajaran tersebut.  Sedangkan pembelajaran yang kedua,  pembicaraan tidak hanya  satu arah (antara guru dan murid), tapi sudah menjadi multi arah. Guru dan murid bebas mengemukan masalah, pandangan yang ada pada mereka, terjadi diskusi yang sangat menarik, tidak menjemukan, waktu terasa singkat. Dan yang lebih besar didapatkan adalah  si murid menjadi terampil berbicara, terampil berlogika, memahami ilmu yang didapatnya secara mendalam karena pembelajarannya berangkat dari masalah yang dihadapi si murid.
Yang disampaikan juga biasanya tanpa pedoman/buku sebagai sumber pembelajaran, tapi langsung berdasarkan pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan dan pengalaman ini yang mereka ajarkan sehingga menjadi terfokus dan terkonsentrasi. Wajarlah ketika si murid keluar dari padepokan itu menjadi orang yang terampil berbicara dan berlogika dan ketika bertemu dengan murid produk tingkat pertama, terjadi diskusi maka akhirnyayang banyak bicara, berlogika adalah produk padepokan kedua.  Karena dalam pembelajaran sudah dibekali dengan keterampilan berbicara dan berlogika ditambah dengan rasa keyakinan yang mereka miliki hasil dari tempaan tersebut.
Ilmu yang mereka sampaikan juga biasa lebih khusus, tidak  bertele-tele, langsung ke masalah dengan alasan supaya dari sekarang mulai dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Cuma dalam pergaulan  biasanya kelompok ini sering mengkritisi  ajaran, paham, budaya, pandangan, adat dan kegiatan yang umum  di masyarakat, sehingga mereka akhirnya dijauhi , yang membawa mereka membentuk komunitas sendiri.
Seringkali ilmu yang rahasia yang diajarkan oleh guru-guru umum,  pada kelompok yang kedua ini tidak ada rahasia lagi, bahkan sangat dibuka dan terbuka, tidak tersembunyi dan disembunyikan lagi. Tergantung pada  murid saja lagi untuk melatih dan mengamalkan  dari ilmu itu. Itulah sebabnya keika kelompok kedua ini berbicara ditengah umum banyak yang tidak diterima oleh masyarakat. Bawaan bebas, terbuka, tidak tersembunyi, tidak rahasia pada waktu pembelajaran keluar pada pembicaraan dan tingkah laku mereka sehari-hari.
Keluarlah sebutan dari masyarakat umum, sesat, menyimpang, kafir, ilmu syaitan, ilmu dukun, ilmu bathin, tenaga dalam,  dan lain sebagainya, maklum mereka  berkata  demikian karena tidak tahu.

3       Pembelajaran Gabungan, maksudnya  adalah mereka yang belajar dari guru-guru masyhur dan tersembunyi. Biasanya produk gabungan ini sering bersikap dan berada di tengah-tengah, sebagai penetral dari  kedua  kelompok masyarakat yang berbeda komunitas ini. Dia bisa masuk pada kelompok pertama juga bisa masuk pada kelompok kedua. Kenapa bisa masuk karena ilmu yang diajarkan oleh kedua kelompok ini dia dapat dan diketahui, sehingga dapat menyesuaikan diri.

Dari adanya tiga produk cara pembelajaran tersebut, nampaknya yang paling vocal menyuarakan isi hatinya adalahkelompok yang kedua. Dengan cara belajar  tanpa aturan yang berbelit-belit  mereka mendapatkan ilmu spiritual.Mereka ingin mendobrak pemikiran masyarakat umum yang selalu melihat untung dan rugi, atau dari siapa, olehsiapa, dan untuk apa.

Namun kalau ditelusuri lebih jauh lagi,  ketiga   macam pembelajaran spiritual tadi, ternyata juga hanya cara mendapatkannya yang berbeda. Tapi pada dasarnya apabila seseorang sudah masuk penganut spritualis sejati, maka jiwa kebebasannya akan selalu menempel. Mereka tidak mau lagi terikat dengan pandangan, wawasan masyarakat karena mereka sudah mempunyai cara pandang sendiri yang mereka yakini.  Perkataan dan perbuatannya mereka siap mempertanggungjawabkan. Mengapa ?, karena mereka berpegang pada keyakinan yang mereka anggap benar dan baik untuk mereka bukan untuk orang lain.  Mereka adalah penganut demokrat sejati, lakon apapun yang diperankan kepada mereka, mereka akan sanggup melakukannya. Mereka juga sudah punya antisipasi dalam tindakan dan perbuatannya.  mau tahu antisipasi mereka, mudah saja,  yaitu “jangan hanya mengharapkan kesenangan tapi bersiaplah  untuk menerima  yang tidak menyenangkan”. Wajarlah kemudian mereka muncul dengan sosok yang berbeda, dan tidak menghiraukan lagi pandangan masyarakat terhadap mereka.

Kenapa Gusdur kontroversial ?, kenapa Ahmad Dhani kontroversial , maaf ya Gusdur dan keluarganya (semoga dalam kebaikan dunia dan akhirat),  untuk mas Ahmad Dhani dijadikan contoh,maaf ya  biar ga ada senggolan nantinya, tulisan ini juga hanya pengamatan,  benar atau salah mereka saja yang tahu. Kenapa tidak memasukkan  hanya  mereka dan Allah saja yang tahu, tidak perlu saya jawab karena yang bersangkutan juga kalau terbaca , mereka akan maklum dan tersenyum.
Perbuatan  dan tingkah laku spritualis,  yang  telah mempunyai keyakinan  yang dalam tidak akan mudah diterjang badai atau masalah apapun. Dijauhkan, diasingkan, diblokade, di embargo, diisolasi, dicemoohkan tidak akan menggoyahkan tingkah laku dan perbuatan mereka.  Mereka jalan terus walau selalu mendapat tantangan, hambatan, gangguan, ancaman, yang pada akhirnya masyarakat penilainya juga akan terbagi dua, yaitu suka dan tidak suka.
Contoh lain yang tidak kalah hangat beritanya adalah ketika Aa Gim melaksanakan pernikahannya yang kedua, muncul reaksi masyarakat yang pro dan kontra, apalagi wanitanya… wah luar biasa tantangannya. Dengan berbagai alasan mereka kemukakan dan sampaikan bahkan sampai pada tindakan pengasingan, bagi yang kontra. Bagaimana Aa Gim menyikapinya, beliau tetap jalan  dengan segala resiko yang harus dihadapi. Orang lain banyak menyayangkan dengan tindakan  ini, karena kalau dihitung dengan matematika manusia,  banyak sekali kerugiannya, apakah Aa Gim tidak menghitungnya, beliau juga menghitungnya tapi alat perhitungannya berbeda dengan orang banyak, yaitu memakai matematika Allah. hehehehehe….. apa itu matematika Allah, silahkan cari sendiri… saya ada terbaca “Allah tidak pandai  matematika”. Silahkan dicari di internet! agar paham dulu,baru komen atau nilai.
Ternyata tindakan spritualis antagonis berangkat dari sebuah keyakinan, sedangkan kita tindakannya banyak berangkat dari perhitungan matematika (matematika manusia), logika, ekonomi yang masih memperhitungkan untung dan rugi.

Terima kasih.
Wassalam

Minggu, 03 April 2011

Pengasingan Yang Menambah Keyakinan

Ketika rasulullah dan sahabat beliau menyiarkan islam pada masa  awal perkembangannya, sangat mendapat tantangan sekali dari kaum Quraisy Mekah. Mereka tidak ingin islam berkembang dengan cepat dan mudah, salah cara untuk menghalanginya adalah dengan mengasingkan Nabi beserta kelompoknya. Pengasingan tersebut dituangkan dalam sebuah perjanjian yang isinya “apabila tulisan perjanjian itu hancur maka selesailah pengasingan itu”.  Perjanjian tersebut mereka letakkan di dalam ka’bah. Menurut logika tulisan itu tidak akan hancur hanya dalam tempo yang singkat, mungkin sampai puluhan tahun. Tapi ternyata kehendak Allah lain, antara 2-3 tahun  ternyata perjanjian itu telah rusak, maka bebaslah rasulullah dari pengasingan /blockade itu.
Pengasingan ini kalau diamati, ada rahasia yang ingin diajarkan Allah kepada rasulullah, menurut versi saya :

1. Allah melatih Rasulullah agar tidak bergantung kepada makhluk

Pengasingan atau pem-blokade-an ini menyangkut segala hal kehidupan seperti :
1. Menyebarkan islam tidak boleh keluar dari lingkungan pengasingan
2. Kelompok yang diasingkan dan kelompok yang mengasingkan tidak boleh berhubungan
3.  Suplai sembako juga tidak boleh
Melihat hal tersebut, pemikiran apa yang muncul pada diri kita, tentu saja kita akan menjawab. Akan terjadi kesepian, kesendirian, kegelisahan, kelaparan, kematian, dan berujung menyerahnya rasulullah kepada kelompok pengasing untuk tidak menyiarkan agama islam lagi.
Bukan rasulullah namanya kalau menyerah, walau hidup dalam keprihatinan, beliau tetap menjalaninya dan terus mengajarkan islam pada kelompoknya. Ternyata dalam keadaan terasing, terpaksa terasing, memunculkan harapan tidak lagi kepada makhluk, tetapi kepada Allah. Sehingga bulatlat keyakinan, bulatlah tawakkal, bulatlah pasrah beliau dan kelompoknya kepada Allah.
Pembelajarannya bagi kita adalah "saya ambil ari ajaran Syekh Abdul Qadir Al Jailani". dalam futuhul ghaib
Ajaran  Ketiga
Manakala seorang hamba diuji oleh Allah, maka mula-mula dia akan melepaskan dirinya dari ujian atau cobaan yang menyusahkan itu. Jika tidak berhasil, maka ia akan meminta pertolongan kepada orang lain seperti para raja, para penguasa, orang-orang dunia atau para hartawan. Jika ia sakit, maka ia akan meminta pertolongan kepada dokter atau dukun.  Jika hal inipun tidak berhasil, maka ia akan kembali menghadapkan wajahnya kepada Allah SWT, untuk memohon dan meratap kepada-Nya. Selagi ia masih dapat menolong dirinya, ia tidak akan minta pertolongan kepada orang lain. Dan selagi pertolongan lain masih ia dapatkan , maka ia tidak akan minta pertolongan kepada Allah.
Jika ia tidak mendapatkan pertolongan Allah, maka ia akan terus meratap, shalat, berdoa dan menyerahkan dirinya dengan sepenuh harapan dan kecemasan kepada Allah Ta’ala. Sekali-kali Allah tidak akan menerima ratapannya, sebelum ia memutuskan dirinya dari keduniaan. Setelah ia terlepas dari hal-hal keduniaan, maka akan tampaklah ketentuan dan keputusan Allah kepada orang itu dan lepaslah ia dari hal-hal keduniaan, selanjutnya hanya ruh sajalah yang tinggal padanya.
Dalam peringkat ini, yang tampak olehnya hanyalah kerja atau perbuatan Allah dan tertanamlah didalam hatinya kepercayaan yang sesungguhnya tentang Tauhid (ke-Esa-an Allah). Pada hakikatnya, tidak ada pelaku atau penggerak atau yang mendiamkan, kecuali Allah saja.  Tidak ada kebaikan dan tidak ada keburukan, tidak ada kerugian dan tidak ada keuntungan, tidak ada faedah dan tidak ada pula anugerah, tidak terbuka dan tidak pula tertutup, tidak mati dan tidak hidup, tidak kaya dan tidak pula papa, melainkan semuanya adalah di tangan Allah.
Hamba Allah itu tidak ubahnya seperti anak bayi yang berada di pangkuan ibunya atau seperti orang mati yang sedang dimandikan atau seperti bola dikaki pemain ; melambung ; bergulir keatas, ketepi dan ketengah, senantiasa berubah tempat kedudukan. Ia tidak mempunyai daya dan upaya. Maka hilanglah ia keluar dari dirinya dan masuk ke dalam perbuatan Allah semata-mata.
Hamba Allah semacam ini, hanya melihat Allah dan perbuatan-Nya. Yang didengar dan diketahuinya hanyalah Allah. Jika ia melihat sesuatu, maka yang dilihatnya itu adalah perbuatan Allah.  Jika ia mendengar atau mengetahui  sesuatu, maka yang didengar dan diketahuinya itu hanyalah firman Allah. Dan jika ia mengetahui sesuatu, maka ia mengetahuinya itu melalui pengetahuan Allah. Ia akan diberi anugerah  Allah.  Beruntunglah ia, karena dekat dengan Allah. Ia akan dihiasi dan dimuliakan. Ridhalah ia kepada Allah. Bertambah dekatlah ia kepada TUhannya. Bertambah cintalah ia kepada Allah. Bertambah khusu’lah ia mengingat Allah. Bersemayamlah ia di dalam Allah. Allah akan memimpinnya dan menghiasinya dengan kekayaan cahaya ilmu Allah. Maka terbukalah tabir yang menghalanginya dari rahasia-rahasia Allah  Yang Maha Agung. Ia hanya mendengar dan mengingat Allah Yang Maha Tinggi. Maka ia senantiasa bersyukur dan shalat dihadapan Allah SWT.

2. Melatih Ketajaman Mata Hati

Bunyi perjanjian tadi adalah "Apabila hancur suratnya, maka habislah pengasingan itu". Menurut Logika surat perjanjian itu diperkirakan baru akan hancur lebih kurang puluhan tahun, tapi ternyata baru memasuki tahun ketiga sudah hancur. Apa sebabnya ?
1.  Allah mengatakan siapa yan bertawakkal kepada-Ku maka akan kuberi jalan keluar yang tidak disangka- sangka. Allah memerintahkan   
     kepada binatang untuk menggerogoti perjanjian itu sehingga tidak bisa terbaca lagi.
2.  Allah membukakan mata hati rasulullah, kemudian memberitahukan kepada kaum Quraisy bahwa perjanjian itu sudah hancur, dan  
     ketika dibuka ternyata betul "tidak bisa dibaca lagi".

Inilah pembelajaran Allah kepada rasulullah dan pengikutnya menurut versi saya, melalui latihan langsung sehingga menambah keyakinan beliau dan pengikutnya untuk berjuang terus membesarkan agama islam. Semoga kita selalu mengikuti jejek langkah beliau. Amin Ya Rabbal Alamin,  Terima kasih  Wahai Rasulullah 

Maaf data yang berhubungan dengan berapa tahun hancurnya perjanjian itu ditulis hanya mengikuti rasa ingat saja, kalau ada yang menguatkan/membetulkan kami ucapkan terima kasih.

Sabtu, 02 April 2011

Pemberontakan, Kebebasan, dan Kejeniusan

Orang yang berjalan dalam dunia spiritual adalah orang yang berjalan menuju kemerdekaan atau kebebasan !
Ada dua alasan yang ingin saya kedepankan dalam penulisan ini yaitu :
1.       Keinginan untuk membuktikan tanpa menggunakan referensi,  hanya mengikuti rasa tetapi tulisan ini bisa terselesaikan walau dalam kualitas  yang sangat sederhana.
Ada sebuah tantangan yang ingin saya latih dan jalani serta buktikan “kalau mengikuti rasa maka inspirasi akan datang kepada kita mengalir dengan sendirinya”.   Hal ini memang tidak sejalan dengan aturan penulisan, tapi karena tulisan ini adalah forum bebas yang tidak terikat,  hanya untuk belajar  dan melatih menulis maka aturan-aturan itu saya abaikan. Kalau nantinya tulisan ini juga sejalan dengan aturan penulisan yang umum, ini juga sebagai salah satu  pembuktian  bagaimana “multi fungsinya”  rasa. Saya  punya  rasa “inspirasi/pemiran”  berasal dari rasa  yaitu rasa yang halus yang kemudian disalurkan melalui otak sehingga terbitlah pemikiran .
Hal ini juga untuk membuktikan aturan yang  umum kalau kita berbicara dimulai dengan kalimat “menurut perasaan saya”,  sering dianggap salah karena katanya tidak memakai otak/pemikiran!  Yang betul menurut  aturan umum adalah “menurut pemikiran saya”. Sementara saya punya rasa “pemikiran itu muncul  dimulai dari rasa”, jadi saya sering mengucapkan “menurut perasaan saya”, tapi  mengucapkan "menurut pemikiran saya", juga betul asal dia tahu rasa itu lebih luas dari pemikiran,  hehehehe…..
Ini juga untuk membuktikan, bila kita berjalan dalam dunia spiritual (rasa yang halus),  kita juga punya pemikiran  yang bebas, tidak mau terikat, bahkan menjadi sebuah inspirasi dalam penulisan maupun tindakan keseharian sehingga menjadi betul-betul “merdeka”, tidak mau terjajah,  hehehe…. maaf ya. 
Sepertinya juga orang-orang yang berjalan di dunia spiritual punya jiwa pemberontakan dengan aturan-aturan yang ada,  bebas dengan rasanya, bebas dengan inspirasinya  (hehehehe……., perlu pembuktian lagi sebagai bahan penulisan,  dengan tema “orang yang berjalan dalam dunia spiritual punya jiwa pemberontak”,  saya tantang, siapa yang mau nulis menurut versi anda, karena ini adalah arena kebebasan).
Pada waktu saya menulis, juga  ingin melihat jalannya inspirasi hasil tulisan, ternyata inspirasi yang akan ditulis terhenti, apa sebabnya, nih jadi masukan bagi kita semua. Pada waktu nulis, jangan dibaca dulu hasil tulisannya, masalah kalimat atau kata nanti bisa diperbaiki kemudian. 
Berhubung waktu hampir maghrib maka tulisan ini saya cukupkan dulu, mudahan ada lagi inspirasinya untuk menjawab tantangan diatas, dadahhhhhhhhh…………….
Sekarang kita lanjutkan,  saya teringat  dengan kalimat diatas tadi “orang-orang yang berjalan dalam dunia spiritual punya jiwa pemberontak”,. Ternyata jawabannya adalah dengan hanya mempermainkan kata “ kebebasan dan pemberontak”.  Pada tema diatas sudah disebutkan “orang yang berjalan dalam dunia spiritual  adalah orang yang berjalan menuju kemerdekaan/kebebasan”. Setiap orang yang ingin bebas dari kondisi pada saat itu berarti dia menjadi pemberontak atau melawan. Sebaliknya orang yang memberontak adalah orang yang ingin mencari kebebasan terhadap kondisi saat itu. Hehehehe betapa mudahnya jawabannya hanya dengan membolak-balikan kalimatnya saja.  
Nah mungkin pembaca ada yang menafsirkan  dari sisi negatif kalimat tersebut “jadi pemberontak”.  Jangan lupa ada satu hal menurut saya  sisi positif dari kalimat tersebut, apakah dia?, yaitu dibalik adanya pemberontakan atau kebebasan disana akan mendatangkan kreativitas yang tinggi bahkan kejeniusan seseorang. Jangan lupa dengan perjalanan sejarah, seperti filosof-filosof dari Yunani dari polis Athena atau dunia islam, kekhalifahan Barat (Cordoba) dan kekhalifahan Timur (Baghdad). Atau yang paling kita kenal dan ketahui adalah ketika Nabi Muhammad SAW menyiarkan dan mengembangkan islam  ternyata bisa kita katakan  sebagai  pemberontak, pemberontakan terhadap zaman jahiliah, benar ngga. Bahkan akhirnya Nabi Muhammad dikatakan sebagai seorang jenius,  penerang, pelita, cerdas, dan rahmatan lila’lamin. Luar biasa………..
2.       Ingin menjawab dan membuktikan kebenaran tema diatas dari sisi spritual.
Menurut saya pengertian dari spiritual adalah yang berkaitan dengan  kerohanian, kejiwaan, kebatinan, hati nurani, mata hati. Berarti urusan yang berkaitan dengan yang tidak Nampak pada diri manusia tapi dapat dirasakan bahkan tergambarkan pada prilaku manusia. Ada dalil yang berbunyi “apa yang ada dalam hati manusia tergambar pada prilakunya”. Jadi kita melihat pada prilakunya bukan pada gambaran fisiknya, tapi yang dilakukan oleh fisiknya. Maksudnya, sudah bebaskah manusia itu dari ikatan fisiknya, walaupun jiwanya berada di dalam fisiknya ?
Istirahat dulu ah, inspirasinya belum muncul.
Lanjut lagi!!!!!!!!!!!!!!!!!
Manusia diciptakan Allah,   menurut orang-orang yang tahu ada yang  yang dinamaka Jiwa. Apakah yang dimaksud dengan jiwa.  Jiwa menurut yang saya dengar adalah produk dari hati dan pikiran yang  mempunyai sifat ingin selalu meraih dan mendapatkan kemenangan, keuntungan, kesenangan, kenikmatan, kelebihan, dipuji, disanjung, dihargai, dihormati, dari manusia.  Orang yang terikat dengan jiwanya adalah orang  mengikatkan dirinya dengan kesenangan dunia. Mereka mengira kesenangan dunia inilah yang membawa kebahagiaan , kedamaian , ketenangan,  karena itu mereka berusaha untuk mencapai . Tapi setelah dipenuhi keinginan jiwa itu, terbit lagi keinginan-keinginan lain yang bersifat dunia, begitulah manusia tidak pernah merasa puas.
Tapi perlu dicatat ada orang yang prilakunya selalu berhubungan dengan dunia, tapi hatinya tidak terikat pada dunia malah merupakan bagian dari pengabdian dia kepada Allah. Orang  ini punya tugas untuk memakmurkan dunia ini seperti yang saya sebutkan dalam catatan sebelumnya  dia berkedudukan sebagai “abdi lalu mengabdi”, khalifah Allah dipermukaan bumi. Badan berprilaku dunia tapi hati tertuju kepada Allah, seperti kata ustaz Yusdeka Putra dia berprofesi sebagai ekonom, sebagai teknisi, sebagai peneliti dll.
Salah satu dalil dalam spiritual islam adalah “Tidak kujadikan jin dan manusia itu kecuali untuk mengabdi kepada-Ku”.  Disinilah letak permasalahan manusia itu, prilakunya apakah mengabdi pada Allah, atau mengabdi pada Tuhan-Tuhan selain Allah. Apabila dia mengabdikan  pada Tuhan-Tuhan selain Allah, maka dia  mengikatkan dirinya disana atau pada berhala-berhala,  berarti tujuannya duniawi., yang  akan mendatangkan kesusahan bagi dirinya. Manusia yang berada dalam kesusahan adalah manusia yang tidak bebas, tidak merdeka, alias terikat.  
Saya teringat dengan perkataan K.H. Zaini Ghani Rahimahullah dari Sekumpul Martapura “Kesusahan itu bukannya tidak ada pada manusia, tapi tidak berbekas pada dirinya”. Kenapa ? karena setiap orang yang mengabdi pada Allah maka kesusahan itu tidak akan pernah masuk pada dirinya, hatinya diliputi oleh Allah. Bagaimana mau masuk, tidak ada ruang dan tempat yang kosong lagi di dalam hati selain Allah.
Allah juga berfirman : “Wahai bumi, barang siapa menghambakan dirinya kepada-Ku, maka berkhidmatlah engkau kepadanya.Dan barang siapa menghambakan dirinya kepadmu,maka buatlah ia susah”. Demikianlah firman-firman Tuhan di dalam kitab-Nya.
Sudah tahu kalau me-Tuhan-kan dunia akan mendatangkan kesusahan  tapi manusia tetap mau terikat  dengan kesusahan tersebut, apa sebabnya ?.
Seperti yang diutarakan tadi, manusia diciptakan oleh Allah  ada jiwa, jiwa inilah yang menerbitkan keinginan-keinginan dunia. Tinggal kita saja lagi, mau bebas, merdeka atau terikat! ingin bebas jadilah hamba Allah, ingin terikat jadilah hamba dunia.
 Mari Kita Proklamasikan diri kita !

Jumat, 01 April 2011

Keterasingan

Keterasingan berasal dari kata terasing,  asing berarti sendiri,  sehingga tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain, atau terpencil. Jadi kata terasing berarti hal-hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pegaulan, terpencil atau terpisah dari yang lain. Keterasingan adalah bagian hidup manusia,  sebentar atau lama, orang pernah mengalami nya.
Seorang anak yang kira-kira berumur sepuluh tahun ketika pulang ke rumah sehabis bermain menangis-nangis. Ketika ditanya kenapa menangis, dia tidak langsung menjawab, karena ketika dia mau  berbicara   malah yang  terdengar hanya suara tangisnya lagi. Setelah tangisnya reda baru anak itu bisa bicara dan menceritakan,  teman-temannya dalam  tidak mau menemaninya bermain bahkan mengasingkannya.
Ketika rasulullah dan sahabat beliau menyiarkan islam pada masa  awal perkembangan  juga diasingkan oleh kaum Quraisy dengan maksud  agar islam tidak berkembang. Bahkan dengan sebuah perjanjian yang isinya “apabila tulisan perjanjian itu hancur maka selesailah pengasingan itu” yang mereka letakkan di dalam ka’bah. Menurut logika tulisan itu tidak akan hancur hanya dalam tempo yang singkat, mungkin sampai puluhan tahun. Tapi ternyata kehendak Allah lain, antara 2-3 tahun  ternyata perjanjian itu telah rusak, maka bebaslah rasulullah dari pengasingan /blockade itu (disini ada rahasia yang ingin diajarkan Allah kepada rasulullah, mudah-mudahan nanti bisa dituliskan).    Ini juga dinamakan keterasingan atau diasingkan, walaupun dengan model yang lain.
Kadang-kadang yang sudah dewasa juga sering merasakan keterasingan atau diasingkan oleh kawan-kawan kita . Ada dengan alasan dia sering menyakiti hati orang, ada dengan alasan tidak sependapat, ada dengan alasan persaingan, ada dengan alasan tidak satu level, dan alasan-alasan lainnya.
Bahkan kita sendiri  sering merasakan, walau kawan-kawan,  baik dari segi prilaku ataupun kata-kata tidak pernah mengasingkan  kita tapi kita merasa terasing.  Berkumpul dengan orang banyak, berpesta, bermain-main, waktu bekerja tetapi terasa ada keterasingan.
Kalau kita tanyakan lebih jauh, apa yang menyebabkan munculnya rasa keterasingan ini ?  Setelah  ditelusuri lebih jauh rasa keterasingan itu ternyata disebabkan oleh adanya sesuatu dimana kita tidak bisa menerima kondisi itu atau belum tercapai  keinginan sehingga mendatangkan kekecewaan.  Pelampiasan dari kekecewaan ini bermacam-macam, ada yang marah, ada yang menangis, ada yang dendam, ada yang benci, ada yang menjauhi, ada yang melawan, ada yang minta bantuan. Itulah cermin keterasingan yang diikuti munculnya kesepian, kekecewaan yang diakibat oleh tidak terima kondisi saat itu atau keinginan yang tidak tercapai.
Kekecewaan dalam bentuk apa pun juga, sudah pasti ditimbulkan  karena merasa dirinya dirugikan, lahir maupun batin. Hal ini adalah lumrah bagi manusia karena manusia mempunyai ego/aku. Si aku,  seringkali juga meluas sifatnya menjadi si kami, keluargaku, golonganku, bangsaku, partaiku, sahabatku.Nampak sekali pada kehidupan kita di Indonesia pada saat ini baik bidang sosial, agama, ekonoi, politik dan sebagainya  yang merupakan cermin keterasingan, kekecewaan yang melahirkan kerusuhan. Semuanya itu disebabkan oleh si ego yang selalu ingin senang, oleh karena itu kalau dia tidak dibikin senang, dan bahagia  kecewalah dia.
Sekarang kita coba untuk mengajukan pertanyaan lagi, apakah keterasingan, yang mendatangkan kekecewaan itu bisa kita atasi ?. Ada sebuah ungkapan “ramai dalam kesendirian dan sendiri dalam keramaian”.  Kalimat ini berarti mempunyai makna, sendiri atau dengan orang tetap dalam keadaan ramai, tidak sunyi, tidak sepi, tidak kecewa, bahkan bisa sebaliknya yaitu ramai, gembira,  damai, bahagia, tenang walaupun diasingkan atau mengasingkan diri.
Memang demikianlah keadaan hidup kita manusia ini. Kesenangan, keindahan dan kebaha­giaan itu sebenarnya SUDAH ADA di manapun dan kapanpun. Akan tetapi kesenangan, keindahan itu tidak nampak dan kebahagiaan itu tidak terasa oleh kita apabila batin kita penuh dengan masalah-masalah kehidupan, penuh dengan pertentangan, kekhawatiran, ke­putusasaan, kemarahan, kebencian, yang kesemuanya itu mendatangkan duka atau kecewa. Je­laslah bahwa kesenangan,keindahan, ketenangan dan kebahagiaan itu tidak dapat dicari DILUAR DIRI KITA, karena sumber dari segalanya berada di dalam diri kita sendiri. Kalau batin kita sudah bebas dari segala pam­rih, bebas dari segala macam keinginan untuk memperoleh hal-hal yang tidak ada. Sering sekali kita mencari yang tidak ada, contoh, ketika perut kita lapar kemudian membuka lemari, terlihat jenis makanan yang akan kita makan, hati kemudian bicara makanan ini terus yang disajikan terasalah sudah kekecewaan, kalau kita makan, makanpun  menjadi tidak nikmat. Apabila kita menikmati yang ada, ma­ka akan nampaklah dan terasalah segala kenikmatan, ketenangan, kesenangan,  keindahan yang terbentang di hadapan kita, di ma­napun dan bilamanapun! Hal-hal seperti ini tidak mungkin dapat dimengerti  kalau hanya dibicarakan sebagai teori hampa belaka, melainkan harus dihayati di dalam kehidupan sehari-hari itu sendiri.
Karena kita  sebagai manusia, maka hal yang lumrah juga apabila kita merasa kecewa,  lalu bagaimana cara mengatasi kekecewaan, padahal tidak bisa kita tolak. Jalan keluarnya hendaklah kamu jangan masuk pada lingkaran kekecewaan itu, keluarlah,  bagaimana cara keluarnya ?. 
 Melakukan tindakan apa pun juga untuk melenyapkan kekecewaan tidak akan berhasil membebaskan diri daripada kekecewaan. Kekecewaan tidak dapat dile­nyapkan oleh daya upaya. Kekecewaan adalah si aku itu sendiri, satu di antara sifat si aku yang selalu ingin senang, maka kalau kesenangannya terganggu, tentu kecewa. Jalan satu-satunya bagi kita hanyalah mengenal aku, mengenal  kekecewaan, mengerti kekecewaan  dan hal ini hanya dapat terjadi apabila kita mau menghadapi kekecewaan  tanpa ingin meng­ubah, tanpa ingin menekan atau me­lenyapkan! Kalau kekecewaan  datang,  kalau kita merasa tidak senang lalu kecewa, kita menghadapi kekecewaan itu seperti kenyataannya, kita  memandang dan meng­amati saja penuh perhatian, penuh ke­waspadaan tanpa pamrih apa-apa, tanpa ingin menguasai menekan atau melenyap­kan. Kalau kita memandang dan meng­amati dengan penuh perhatian tanpa perasaan atau keinginan apa-apa, berarti kita sadar waspada, maka semua akan nampak terang dan kekecewaan  akan mus­nah tanpa kita hilangkan atau tekan.  Artinya kita hanya mengawasi, mengamati  keadaan diri kita, kita sadar kita sedang kecewa. Karena seorang pengawas  atau pengamat adalah seorang yang bisa objektif tanpa harus masuk pada kekecewaan itu. Kalau tidak masuk berarti tidak terikat, kalau tidak terikat berarti bebas, kalau bebas berarti merdeka. Merdeka dari keterasingan, merdeka dari kekecewaan  lalu katakanlah “Aku Merdeka”.
Karena itu belajar dan berlatihlah dalam kehidupan keseharian kita supaya jangan hanya sampai pada pegetahuan tapi sampai pada perasaan tentunya perasaan yang halus.

Rabu, 30 Maret 2011

Indra ke enam

Penglihatan, Pendengaran, Penciuman, Pengrasa, dan Peraba
Itulah yang dinamakan Panca Indra
Tidaklah sempurna penglihatanmu
Tidaklah sempurna pendengaranmu
Tidaklah sempurna penciumanmu
Tidaklah sempurna  perasaanmu
Tidaklah sempuna perabamu
Apabila kamu tinggalkan yang satu ini
Hendaklah kamu melihat dengan mata hatimu
Hendaklah kamu mendengar dengan pendengaran hatimu
Hendaklah kamu mencium dengan penciuman mata hatimu
Hendaklah kamu merasa dengan perasaan hatimu
Hendaklah kamu meraba dengan rabaan hatimu
Apakah maksud dari kalimat-kalimat tersebut diatas ?, tiada lain adalah agar diri kita dalam bertindak dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya menggunakan panca indra tapi juga menggunakan mata hati. Kenapa harus menggunakan mata hati  dalam kegiatan keseharian, padahal tanpa menggunakannyapun tidak terjadi  hal-hal yang luar biasa dan juga tidak mengganggu kehidupan  harian kita. Banyak orang yang tidak menggunakannya tapi tetap normal saja bahkan mencapai prestasi yang tinggi.
Tidak bisa bisa dibantah, alasan yang dikemukakan itu memang betul adanya, namun kita hanya ingin menyampaikan bahwa dengan prestasi yang sudah bagus, kalau kita menggunakan mata hati dijamin akan lebih bagus lagi. Dan bagi yang belum mencapai prestasi  apabila menggunakan mata hati akan  bisa juga berprestasi.
 Allah dan Rasulnya selalu menganjurkan kita untuk menjalani kehidupan ini agar seimbang. Seimbang zhahir dan batin, seimbang dunia dan akhirat, seimbang jasmani dan rohani, sehingga terwujudlah tindakan syukur dalam kehidupan sehari-sehari.  Kenapa dikatakan tindakan syukur ?, karena kita memanfaatkan secara maksimal anugerah Allah yang ada pada diri kita baik secara jasmani  (panca indra) maupun rohani (indra ke enam).  Kalau kita memanfaatkan secara maksimal anugerah Allah yang ada pada diri kita baik secara jasmani maupun rohani berarti kita juga melatih atau menggunakan Panca Indra ke enam. Dimanakah letaknya kita menggunakan panca indra ke enam ?.
Cobalah  perhatikan Panca Indra kita yang  terdiri dari mata, telinga, hidung, lidah dan kulit, mempunyai fungsi yang sangat besar sekali bagi tubuh kita. Pernahkah berpikir panca indra ini mempunyai fungsi yang luar biasa ini sumbernya darimana ?.  Menurut saya panca indra ini dapat berfungsi karena hati, didalam hati ada yang dinamakan rasa, kemudian rasa  melalui hati  mengirim pengetahuan yang didapat oleh indra. Sehingga berfungsilah indra kita. Jadi yang menguasai Panca Indra kita itu adalah rasa yang ada di dalam hati.  Bisa juga dikatakan alat-alat yang ada di tubuh kita berfungsi karena rasa, kita lihat saja, walaupun panca indra yang kita miliki kadang-kadang tidak lengkap tetapi seperti  tetap berfungsi.  Contohnya bisa kita lihat pada orang buta, walaupun  indra penglihatannya tidak berfungsi tapi fungsi penglihatan itu dapat dimbil  oleh yang namanya  rasa, rasa melihat, rasa mendengar, mencium, rasa halus atau kasar, dan rasa pahit dan manis. Apabila kita menggunakan panca indra tapi masih belum menghubungkannya dengan hati kita yang di dalamnya ada rasa berarti kita belum melatih atau menggunakan indra ke enam.  Untuk lebih mudah memahaminya dan melatih serta menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari maka biasakan dalam bertindak atau melakukan apapun juga  maka  pandanglah hati kamu dan rasakan, saya mendengar karena mata hati saya yang mendengar, saya melihat karena mata hati saya yang melihat, saya mencium bau-bauan karena mata hati saya yang mencium, saya merasakan sesuatu melalu lidah saya karena mata hati saya yang merasakannya, saya meraba sesuatu dan bisa merasakannya karena mata hati saya (memandang fungsi panca indra melalui rasa).

Ternyata setelah kita rasakan melalu panca indra tadi, rasa mempunyai fungsi yang lebih luas dan banyak lagi. Dengan rasa kita bisa merasakan ketegangan , kedamaian, ketenangan, kenikmatan, kekhusyu’an,  kegembiraan, kesedihan,  syukur, sabar, marah, sayang dan lain sebagainya.

 Apabila kita sudah berada pada dunia rasa, maka otomatis kita sudah melatih, memakai atau menggunakan indra ke enam kita. Ketajamannya sangat tergantung pada latihan, bimbingan, atau bakat yang kita miliki.

Dengn terbiasa  menggunakan rasa , maka kita akan mudah untuk berhubungan dengan Allah. Karena rasa itu adalah bagian dari jiwa atau sama dengan jiwa, sementara yang dekat  dan kenal dengan Allah adalah jiwa, apalagi kalau jiwa itu sudah mencapai jiwa yang muthmainnah, maka akan mendapat sapaan, panggilan dari Allah. (“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah pada Tuhan Mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam syurga-Ku”. QS. Al Fajr. 27-30).

Panca indra ke enam ternyata mempunyai fungsi yang sangat bermanfaat sekali bagi kita, bisa untuk kepentingan dunia dan untuk kepentingan ukhrawi,  mau kemana  mengarahkannya. Dan yang sangat mendasar dari tulisan ini adalah dengan menggunakan panca indra ke enam adalah alat yang paling mudah untuk mengenal Allah, namun harus didasari pengetahuan yang sesuai. Kalau kurang paham tanyakan pada ahlinya, jangan dipersulit.

Terima kasih

Nafsu

Untuk membedakan antara nafsu manusia dan hati nurani (kehendak Allah), menurut saya mudah saja yaitu dengan cara menghilangkan keakuan (ego). Sepanjang keakuan kita ada berarti masih ada dua nafsu /kehendak, saya tidak menyebutkan lagi dengan kata nafsu tapi kehendak. yaitu kehendak manusia dan kehendak Allah. Mari kita lihat kenapa Rasulullah menyebutkan diri beliau dengan sebutan abdi atau hamba, hamba adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa. Tidak kuasa, tidak berkehendak, tidak berilmu, tidak hidup, tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak bisa berkata-kata. Semuanya kepunyaan Allah, makanya hamba itu adalah pangkat tertinggi bagi manusia karena sudah bisa menghilangkan keakuannya. Dan nantinya orang yang dimintai pertanggung-jawabannya oleh Allah adalah karena keakuan manusia itu sendiri. Maaf walaupun shalat tapi kita mengakui , yang melakukannya , maka tetap akan diminta pertanggung-jawabannya.
kehendak(iradah) kalau dilihat dari syariat/fiqih apabila baik dikatakan berasal dari Allah, sedangkan apabila tidak baik berasal dari kita, karena itu oleh orang-orang sufi kehendak dibagi menjadi 7 tingkatan :
1. Kehendak amarah
2. Kehendak lawwamah
3. Kehendak Muthmainnah
4. Kehendak Mulhimah
5. Kehendak Aradhiyah
6. Kehendak Mardhiyah
7. Kehendak Kamilah
Nomor 1 dan 2 adalah kehendak dari manusia yang tidak baik, sedangkan nomor 3 sampai nomor 7 adalah kehendak yang datang dari Allah. Seorang manusia yang sudah mencapai tingkatan hamba atau abdi berada pada tingkatan ke 7 yaitu kehendak kamilah atau kehendak yang sempurna karena tidak ada pengakuan lagi, sehingga dikatakan pangkat tertinggi bagi seorang manusia. Makanya jangan mengaku sebagai seorang hamba apabila kehendaknya masih nomor 1 dan nomor 2 pada diri kita. 
Kalau kita kaitkan dengan indra ke 6, tingkatan 3 sampai 7 itulah yang dinamakan dengan indra ke 6. SedangkanPanca indra yang lima (mendengar, melihat, mencium, merasa (lidah). dan meraba) atau dalam ilmu tauhid/sifat 20 dinamakan qudrah, iradah, ilmu, hayat, sama’, bashar, dan kalam adalah rasa yang kasar. Sedangkan indra ke 6 adalah rasa yang halus atau lembut yang dalam sifat 20 (tauhid) dinamakan qadirun, muridun, a’limun, hayyun, sami’un, bashirun,muttakalimun karena semua berhubungan dengan kehendak Allah.
Ada ungkapan yang berbunyi “Allah punya kuasa, Iblis punya kepandaian/bisa, manusia punya rasa”. Alat yang dijadikan Allah untuk manusia agar dapat mengenal Allah adalah rasa. Melalui rasa inilah manusia bisa merasakan adanya Allah dan bisa merasakan bersatu dengan Allah, tapi ingat rasa bersatu ini tidak sama dengan bersatunya antara 2 benda. Rasa bersatu ini juga diberikan Allah kepada tiap manusia tidak sama, sangat bergantung pada anugerah Allah. Rasa inilah yang membawa keyakinan manusia untuk beriman dengan Rukun Iman, Rukun Islam dan Ihsan. Rasa inilah yang menghubungkan antara alam kasar dengan alam yang lembut, antara alam nyata (syahadah) dengan alam ghaib dan antara makhluk (manusia) dengan Allah. Supaya tidak ada pengakuan, Janganlah merasa bisa tapi hendaklah bisa merasakan. Apabila kita merasa pandai/bisa berarti kita mengikuti atau mengakui kepunyaan iblis atau syaithan. Apabila kita merasa kuasa berarti mengakui hak Allah karena mengambil selendang-Nya yang akhirnya menjadikan kita sombong.
Kalau kita hubungkan dengan dalil “awal agama adalah mengenal Allah”, dalil untuk mengenal Allah adalah “barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan kenal dengan Tuhannya, dan siapa yang sudah kenal akan Tuhannya maka ia tidak kenal lagi dengan dirinya”. Apabila merasa kenal dengan dirinya maka akan lahir pengakuan, pengakuan dalam segala hal dan bentuk. Apabila manusia sudah kenal dengan Tuhan maka janganlah ada lagi pengakuan dirinya. Sumber masalah dari manusia itu adalah karena adanya pengakuan manusia itu sendiri terhadap dirinya. Lupa untuk menyerahkannya kepada Al Khaliq. Pengakuan dirinya ada, maka kehendaknya juga ada, apabila pengakuan tidak ada maka seorang hamba akan merasakan kehendak Allah.
Maaf dengan segala kekurangannya
Terima kasih

Jumat, 25 Maret 2011

Panca Indra

1.              Panca Indra
Penglihatan, Pendengaran, Penciuman, Pengrasa, dan Peraba
Itulah yang dinamakan Panca Indra
Tidaklah sempurna penglihatanmu
Tidaklah sempurna pendengaranmu
Tidaklah sempurna penciumanmu
Tidaklah sempurna  perasaanmu
Tidaklah sempuna perabamu
Apabila kamu tinggalkan yang satu ini
Hendaklah kamu melihat dengan mata hatimu
Hendaklah kamu mendengar dengan pendengaran hatimu
Hendaklah kamu mencium dengan penciuman mata hatimu
Hendaklah kamu merasa dengan perasaan hatimu
Hendaklah kamu meraba dengan rabaan hatimu